Ibuprofen
IBUPROFEN
Ibuprofen adalah obat yang termasuk nonsteroidal
anti-inflammatory drug (NSAID). Dibandingkan dengan NSAID lainnya, obat ini
salah satu anti inflamasi yang paling lemah sekaligus mengakibatkan efek
samping yang paling ringan. Sama seperti NSAID lainnya, ibuprofen bekerja
dengan cara menghambat kerja enzim siklooksigenase (COX). Enzim ini berfungsi
untuk membantu pembentukan prostaglandin saat terjadinya luka dan menyebabkan
rasa sakit dan peradangan. Dengan menghalangi kerja enzim COX, prostaglandin
lebih sedikit diproduksi, yang berarti rasa sakit dan peradangan akan mereda.
Ibuprofen biasa dipasarkan dengan kadar 200 mg atau 400 mg /
tablet, 100 mg/ 5 ml sirup atau 200 mg/ 5 ml sirup forte dan dalam bentuk
suppositoria 125 mg.
INDIKASI
Kegunaan ibuprofen adalah untuk mengobati nyeri ringan
sampai sedang misalnya :
·
Sakit gigi dan setelah cabut gigi
·
Sakit kepala termasuk migrain
·
Sakit pada telinga
·
Nyeri otot dan sendi termasuk nyeri akibat
penyakit asam urat dan rematik
·
Nyeri akibat batu ginjal
·
Nyeri pasca operasi
·
Nyeri haid
·
Demam, termasuk demam setelah imunisasi
Di beberapa negara, diberikan juga dalam bentuk garam lisin
(lysinate ibuprofen) yang digunakan untuk penutupan patent ductus arteriosus
pada bayi yang lahir prematur dengan berat badan 500 – 1500 gram, yang lahir
saat usia kehamilan tidak lebih dari 32 minggu. Sediaan ini diberikan secara
intravena saat tindakan medis yang biasa tidak memberikan hasil yang memuaskan.
KONTRA INDIKASI
jangan diberikan untuk pasien yang memiliki riwayat alergi
terhadap ibuprofen, aspirin atau NSAID
lainnya.
pasien yang akan atau telah menjalani operasi by-pass
jantung sebaiknya jangan menggunakan ibuprofen.
obat ini juga dikontraindikasikan untuk pasien yang memiliki
masalah ginjal, hati, pasien yang menderita asma, urtikaria, atau radang /
tukak pada lambung atau usus.
EFEK SAMPING
IBUPROFEN
·
Dibandingkan NSAID lainnya, ibuprofen adalah
obat pilihan pertama karena memiliki efek samping yang lebih ringan. Berikut
adalah efek samping obat ini :
·
efek samping ibuprofen yang relatif ringan
seperti sakit kepala, gugup dan muntah.
·
Efek samping yang lebih serius dapat berupa
diare, hematemesis (muntah darah), hematuria (darah dalam urin), penglihatan
kabur, ruam kulit, gatal dan bengkak.
·
seperti obat golongan NSAID lainnya, bisa
meningkatkan resiko hipertensi, infark miokardial (serangan jantung), dan
stroke terutama jika digunakan dalam jangka panjang dan dosis yang lebih
tinggi.
·
Reaksi dermatologis diantaranya kulit lebih
sensitif terhadap paparan cahaya tetapi efeknya paling lemah diantara NSAID
lainnya. Sindrom Stevens-Johnson, dan nekrolisis epidermal toksik, yang dapat
berakibat fatal, dapat terjadi selama pemakaian NSAID termasuk ibuprofen
meskipun kejadian ini sangat jarang. Pengobatan harus dihentikan jika tanda –
tanda seperti ruam atau hipersensitivitas muncul.
·
NSAID termasuk ibuprofen menyebabkan gangguan
pada saluran gastrointestinal misalnya : perdarahan, ulserasi, dan perforasi
lambung atau usus yang bisa berakibat fatal. Efek samping ini akan meningkat
pada pemakaian dalam dosis tinggi dan waktu yang lama, dan pasien merokok atau
minum alkohol.
·
Gangguan berat pada organ hati seperti penyakit
kuning dan hepatitis, juga bisa terjadi terutama pada dosis tinggi dan durasi
pemakaian yang lama. Jika tes hati yang abnormal menetap atau memburuk, jika
tanda-tanda dan gejala yang konsisten dengan penyakit hati klinis terjadi, atau
jika manifestasi sistemik terjadi (misalnya : eosinofilia, ruam, dan lain-lain),
pemakaian obat ini harus dihentikan.
PERHATIAN
·
Sebaiknya diberikan bersama makanan atau susu
untuk menghindari nyeri perut.
·
Jangan diberikan pada orang yang memiliki fungsi
hati dan ginjal yang buruk, sedang atau pernah memiliki sakit jantung.
·
Jika anda menderita hipertensi, pantau tekanan
darah selama pengobatan. Jika tidak benar-benar dibutuhkan sebaiknya jangan
menggunakan ibuprofen ataupun NSAID lainnya.
·
Ibuprofen dapat menyebabkan pusing atau
mengantuk, yang akan diperparah jika pasien juga mengkonsumsi alkohol. Jangan
mengemudi atau menyalakan mesin selama pemakaian obat ini.
·
Keamanan dan kemanjuran pada anak-anak < 18
tahun belum dipastikan secara klinis.
·
Pada pemberian secara intravena, perhatian yang
lebih harus dilakukan pada pasien yang menglami retensi cairan, atau pernah
mengalami keluhan jantung. Keamanan dan kemanjuran sedian ibuprofen intravena
belum dipastikan untuk anak-anak < 18.
·
Penggunaan pada pasien lanjut usia harus lebih
hati – hati karena mereka lebih sensitif terhadap efek obat ini, terutama
perdarahan perut dan masalah ginjal.
·
Ibuprofen ditemukan dalam ASI. Jangan menyusui
saat menggunakan obat ini atau beri rentang yang cukup.
·
Jika setelah 24 jam obat ini tidak memberikan
efek yang memuaskan, demam dan nyeri sudah berlangsung lebih dari 3 hari atau
gejala-gejala lain muncul, segeralah hubungi dokter anda.
·
Jika setelah pemakaian selama 2 – 4 minggu tidak
memberikan hasil yang memuaskan sebaiknya dicari alternatif obat NSAID lainnya.
·
Jika anda memiliki riwayat alergi terhadap NSAID
lain misalnya aspirin, sebaiknya tidak menggunakan obat ini.
PENGGUNAAN IBUPROFEN
OLEH WANITA HAMIL
FDA (badan pengawas obat dan makanan amerika serikat)
mengkategorikan ibuprofen kedalam kategori C dengan penjelasan sebagai berikut
:
Penelitian pada reproduksi hewan
telah menunjukkan efek buruk pada janin dan tidak ada studi yang memadai dan
terkendali dengan baik pada manusia, namun jika potensi keuntungan dapat
dijamin, penggunaan obat pada ibu hamil dapat dilakukan meskipun potensi resiko
sangat besar.
Pada usia kehamilan trimester 3 (jika digunakan dalam dosis
penuh) dikategorikan ke dalam kategori D :
Terbukti beresiko terhadap janin
manusia berdasarkan bukti-bukti empiris yang didapatkan dari investigasi,
pengalaman marketing maupun studi
terhadap manusia. Namun jika manfaat yang diperoleh dipandang lebih tinggi dari
resiko yang mungkin terjadi, obat ini bisa diberikan.
Pemakaian ibuprofen oleh ibu hamil, terutama pada usia
kehamilan lebih dari 30 minggu sebaiknya tidak dilakukan karena resiko
terjadinya penutupan prematur atau patent ductus arteriosus. Pada usia
kehamilan yang lebih awal, jika bisa dijamin obat ini memberikan manfaat yang
lebih besar daripada resikonya, obat ini masih bisa diberikan.
INTERAKSI OBAT
Ibuprofen berinteraksi dengan obat-obat berikut :
·
Antikoagulan (misalnya, warfarin atau kumarin),
karena obat-obat ini jika diberikan bersamaan ibuprofen meningkatkan resiko
perdarahan lambung.
·
Ibuprofen menurunkan efektivitas
Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor
(misalnya, enalapril) atau diuretik (misalnya, furosemide,
hydrochlorothiazide).
·
Mengganggu efek antiplatelet aspirin dosis
rendah yang menyebabkan efektivitas aspirin menurun bila digunakan untuk
cardioprotection dan pencegahan stroke. Aspirin juga meningkatkan resiko
perdarahan lambung.
DOSIS IBUPROFEN
ibuprofen diberikan dengan dosis :
Dosis lazim dewasa untuk dismenore
200 – 400 mg secara oral setiap 4 – 6 jam atau bila
diperlukan.
Dosis lazim dewasa untuk osteoarthritis dan rheumatoid
arthritis (rematik)
Dosis awal : 400 – 800 mg secara oral setiap 6 – 8 jam.
Dosis dapat dinaikkan, tapi tidak lebih dari 3.2 gram / hari.
Dosis lazim dewasa untuk nyeri dan atau demam
200 – 400 mg secara oral setiap 4 – 6 jam atau bila
diperlukan. Untuk nyeri yang lebih berat bisa diberikan secara intravena dengan
dosis 400 – 800 mg, diberikan lebih dari 30 menit setiap 6 jam atau sesuai
kebutuhan.
Dosis lazim pediatric untuk demam dan atau nyeri
Usia 6 bulan – 11 tahun : 7.5 mg / kg BB / dosis, diberikan
secara oral setiap 6 – 8 jam atau sesuai kebutuhan. Dosis maksimum : 30 mg / kg
BB / hari.
Dosis lazim pediatric untuk rheumatoid arthritis
Usia 6 bulan – 12 tahun : 20 – 40 mg / kg bb / hari dibagi 3
atau 4 x pemberian.Maksimum : 2.4 g / hari
Comments
Post a Comment